Apa Itu Objek PPh?

Apa Itu Objek PPh?

Adeline Hilary Tambunan, 2 months ago
Media-Image

Jakarta - Pada dasarnya objek merupakan salah satu unsur dalam sebuah pembentukan kalimat. Objek menjadi bagian yang terpenting dalam melengkapi subjek maupun predikat. Dalam hal ini objek menjadi komponen dalam struktur kalimat.

Sedangkan menurut KBBI, objek merupakan suatu benda, hal, dan sebagainya yang dapat menjadi sasaran untuk diteliti hingga diperhatikan. Selain itu, Objek juga dapat diartikan sebagai nomina yang melengkapi verba transitif dalam klausa. Jika berdasarkan linguistik, objek merupakan kata benda, frasa kata benda, atau kata ganti yang berkaitan dengan tindakan kata kerja.

Dalam bidang perpajakan pun sama, objek merupakan komponen terpenting dalam pengenaan pajak. Hal ini sudah terlihat jelas dari definisi pajak, dimana pajak merupakan kontribusi wajib yang dilaksanakan wajib pajak, baik orang pribadi ataupun badan kepada negara yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang di bidang perpajakan. Maka yang menjadi objek dipajak itu ialah kontribusi yang diberikan oleh wajib pajak. Sebagaimana yang dimaksud dari kontribusi ialah dalam bentuk gaji, upah atau imbalan, hingga penghasilan yang diperoleh wajib pajak. Lantas apa sebenarnya maksud dengan Objek Pajak Penghasilan (PPh)? Mari simak penjelasannya berikut ini.

 

Seputar Pajak Penghasilan (PPh)

Merujuk dalam peraturan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, lalu dipertegas kembali pada UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020 dan UU Harmonisasi Perpajakan (UU HPP) Pajak Penghasilan (PPh) didefinisikan sebagai pajak yang dikenakan atas penghasilan atau pendapatan yang berasal dari wajib pajak, baik pribadi ataupun badan. Penghasilan yang dimaksud dapat diperoleh dari dalam negeri maupun luar negeri.

PPh sendiri terbagi atas berbagai jenis pasal, mulai dari PPh Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 29, Pasal 4 ayat (2), Pasal 15, hingga Pasal 19. Dalam setiap pengenaan PPh tentunya ada ketentuan khusus, yakni subjek hingga objek yang dikenakan, dimana subjek pajak merupakan orang yang dipungut pajak atau wajib pajak, dan objek dalam pajak penghasilan merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis seperti gaji, imbalan, upah, dan sebagainya yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak.

Baca juga Apa Itu Tax Dispute, Tax Appeal, dan Tax Lawsuit?

Mengenal Apa Itu Objek PPh

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, dimana objek merupakan sesuatu hal yang menjadi sasaran atau target dalam pengenaan. Dalam pajak penghasilan (PPh) objek merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak, untuk dikonsumsi atau digunakan dalam menambahkan kekayaan. Kemampuan ekonomis tersebut termasuk yang diperoleh dari dalam negeri maupun yang diperoleh dari luar negeri, seperti:

  • Penghasilan yang diterima atas pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan oleh wajib pajak, seperti gaji, upah, komisi, bonus, tunjangan, uang pensiun, jaminan hari tua, hingga kemampuan ekonomi tambahan dalam bentuk lain sesuai dengan ketentuan dalam bidang perpajakan.
  • Hadiah yang diperoleh dalam sesuatu pekerjaan ataupun kegiatan, misalnya hadiah ataupun penghargaan.
  • Penghasilan atau laba yang diperoleh dari kegiatan usaha.
  • Keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha atau penjualan hingga pengalihan harta, meliputi:
  • Keuntungan yang diperoleh atas pengalihan harta perseroan, kelompok, hingga badan sebagai penyertaan modal ataupun pengganti saham.
  • Keuntungan yang diperoleh atas pengalihan harta pada pemegang saham, kelompok, hingga anggota dari kelompok ataupun badan lainnya.
  • Keuntungan yang diperoleh atas dilakukannya likuidasi, merger, pemekaran, akuisisi ataupun reorganisasi dengan nama, jenis, atau dalam bentuk apapun.
  • Keuntungan yang diperoleh atas pengalihan harta, seperti hibah, sumbangan, kecuali yang diberikan atas keluarga sedarah dalam satu garis keturunan ataupun pada badan-badan sosial (keagamaan, Pendidikan, Yayasan, koperasi, dan sejenisnya)
  • Keuntungan yang diperoleh atas pengalihan harta ataupun penjualan dari sebagian ataupun seluruhnya dari hak penambangan, pembiayaan, hingga tanda turut atau permodalan dalam badan usaha yang bergerak di bidang pertambangan.
  • Penerimaan kembali atas pembayaran pajak yang dibebankan sebagai biaya ataupun pembayaran tambahan dari pengembalian pajak.
  • Bunga (diskonto, imbalan atas jaminan pengembalian utang, hingga premium).
  • Dividen dengan nama atau dalam bentuk apapun.
  • Royalti
  • Sewa
  • Penerimaan ataupun perolehan dari pembayaran berkala.
  • Keuntungan dari selisih kurs mata uang asing atau dari selisih penilaian kembali aktiva.
  • Premi atas asuransi.
  • Iuran yang diperoleh atas perkumpulan dari beberapa anggotanya, baik wajib pajak yang memiliki usaha atau pekerja bebas.
  • Penghasilan tambahan yang belum dikenakan pajak.
  • Penghasilan yang diperoleh dari usaha, termasuk yang berbasis syariah.
  • Imbalan bunga (sesuai dengan aturan perpajakan yang berlaku).
  • Surplus dari BI (Bank Indonesia).

Baca juga Apa Itu Jalur Merah, Jalur Kuning, Jalur Hijau, dan Jalur Mita

Adapun, penghasilan dengan sifat final yang dapat menjadi objek pajak PPh, antara lain:

  • Bunga deposito atau tabungan lainnya seperti bunga obligasi hingga surat utang negara.
  • Hadiah yang dihasilkan secara cuma-cuma atau dari undian.
  • Transaksi saham dan sekuritas lainnya yang sejenis, hingga transaksi derivatif yang diperjual-belikan di pasar saham atau bursa.
  • Pengalihan harta atas tanah/bangunan, jasa konstruksi, real estate, hingga persewaan.
  • Segala penghasilan lainnya (sesuai dengan aturan perpajakan yang berlaku).

Sementara itu, terdapat jenis penghasilan yang dikecualikan sebagai objek Pajak Penghasilan (PPh), yakni sebagai berikut:

  • Sumbangan atau bantuan, termasuk zakat yang diberikan kepada Lembaga keagamaan yang sudah diresmikan oleh pemerintah.
  • Warisan atau harta yang dihibahkan kepada saudara dalam satu garis luruh keturunan hingga badan-badan sosial (keagamaan, Pendidikan, Yayasan, koperasi, dan lain sebagainya) atas dasar hibah tanpa ada keperluan usaha, bisnis, maupun pekerjaan/kontrak.
  • Harta hingga setor tunai sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b dimana sebagai pengganti saham ataupun penyertaan modal.
  • Imbalan atau penggantian dalam rangka pekerjaan atau jasa yang diperoleh wajib pajak ataupun pemerintah atas natura atau kenikmatan.
  • Asuransi Kesehatan, pekerjaan, jiwa, hingga beasiswa yang diberikan perusahaan.
  • Laba atau dividen yang diperoleh perseroan terbatas (PT) sebagai WP dalam negeri, koperasi, BUMD/BUMN, hingga badan usaha yang didirikan atau berlokasi didaerah yang memberikan penyertaan modal, dengan syarat dividen yang diperoleh berasal dari cadangan laba yang ditahan.
  • Dana pensiunan (sesuai dengan peraturan dalam bidang perpajakan yang berlaku).
  • Laba yang diperolah anggota PT, firma, hingga kongsi yang modalnya tidak terbagi atas saham.
  • Modal ventura (sesuai dengan peraturan dalam bidang perpajakan yang berlaku).
  • Beasiswa (sesuai dengan peraturan dalam bidang perpajakan yang berlaku).
  • Kelebihan yang diperoleh badan ataupun Lembaga nirlaba yang bergerak dibidang Pendidikan, penelitian, hingga pengembangan yang telah diresmikan oleh instansi yang membidanginya (sesuai dengan peraturan dalam bidang perpajakan yang berlaku).
  • Bantuan dalam bentuk santunan yang diberikan kepada wajib pajak tertentu oleh badan penyelenggara jaminan sosial, dan ketentuannya telah diatur dalam PMK (Peraturan Menteri Keuangan).

Kelola Pajak Mudah Dengan e-PPT Pajakku

Dalam mengurus Pajak Penghasilan tentu Anda membutuhkan platform yang dapat mengolah data PPh Anda. Anda bisa menggunakan e-PPT Pajakku.

e-PPT Pajakku merupakan platform pengolahan seluruh PPh termasuk PPh Unifikasi secara menyeluruh dari Hitung-Bayar-Lapor kapan saja dan di mana saja. e-PPT Pajakku juga telah lolos Uji Teknis DJP (BA No. 9/PJ.10/2016) dengan lisensi resmi DJP SK KEP-211/PJ/2022. Adapun fitur-fitur yang dapat membantumu, seperti:

  • Multi-NPWP
  • Multi-Pasal PPh
  • Multi-User (tax admin and user)
  • Pengaturan hak akses/user role
  • Manageable Bukti Potong
  • Output format CSV siap lapor ke e-Filing
  • Impor/ekspor data secara multi NPWP- Multi Pasal PPh
  • Penyimpanan Tanda tangan elektronik
  • Dapat diakses dimana saja (web-based/cloud).

Beragam keuntungan pun juga akan kamu dapatkan. Maka dari itu, segera gunakan layanan aplikasi e-PPT Pajakku. Untuk informasi lebih lanjut langsung akses https://www.pajakku.com/products atau bisa menghubungi marketing@pajakku.com atau 0804-1-501-501.

Artikel Lainnya

Fokus

Subscribe

Dapatkan informasi terbaru dari pajakku
2023 © PT. Mitra Pajakku
Ikuti kami
BAYAR
PAJAK
icon-mpn