• Forum
  • Amnesti Pajak
  • Bingung masalah laporan SPT paska TA
  • Bingung masalah laporan SPT paska TA

    Andri wahyu26 Mar 2018 pukul 17.19
    Min ijin bertanya,
    Bapak saya sudah ikut TA bulan maret 2017 kemarin, bagaimana pelaporan SPT pribadi dan laporan SPH yang 3 tahun itu jika :
    • anggap saja pada saat TA, ortu saya ada 5 harta yang dilaporkan, 3 tanah dan bangunan, harta dan uang tunai
    • Jika dalam tahun 2017 kemarin ada 1 tanah yang dijual, bagaimana laporannya min ?
    • Apakah betul jika SPT lembar ke 3 no 7 ditulis besaran pajaknya yang sudah dibayar ? karena pajak penjualan tanah sudah dibayar oleh notaris.
    • Apakah di SPH yang akan dilaporkan 3 tahun itu, harta terjual tersebut dihapus/didelet dari list ?
    • Dan apakah di SPT lembar ke 4 juga harta terjual tersebut didelete dari daftar ?
    Sebagai informasi, usaha bapak saya adalah usaha yang menggunakan pph final 1%

    Karena saya menanyakan di KPPP banjarmasin untuk masalah ini, penjelasannya kurang paham, beliau mengatakan kalo ada tanah yang dijual, artinya ada saving yang bertambah atau deposito bertambah, kata beliau kudu balance.
    Masalahnya, keluarga saya ini perorangan, bukan badan, jadi harus balance gimana maksudnya min ?
    Didalam keluarga khan ngga ada neraca laba rugi, dana masuk jelas untuk kehidupan sehari hari.

    Atau mgk saya yang salah paham masalah balance ini ?
    Mohon pencerahannya min, terima kasih banget
    Andri wahyu26 Mar 2018 pukul 17.24
    oh ya ketinggalan min, maaf
    sebelum ikut TA, sudah ada 2 harta yang rutin dilaporkan, nah, apakah 2 harta ini dimasukkan juga ke LAPORAN PENEMPATAN HARTA atau hanya harta2 yang ikut TA saja ?

    terima kasih banyak min
    Moderator26 Mar 2018 pukul 21.28
    Jika dalam tahun 2017 kemarin ada 1 tanah yang dijual, bagaimana laporannya min?
    Pada Laporan Penempatan Harta dapat dicantumkan sbb:
    1. Tanah 1 Rp XXX
    2. Tanah 2 Rp XXX
    3. Tanah 3 Rp 0 (bagian keterangan: telah dijual)
    4. Harta Lain-lain Rp XXX
    5. Uang Tunai Rp XXX + Rp YYY (bagian keterangan:Rp YYY diperoleh dari penjualan Tanah 3)
     
    Apakah betul jika SPT lembar ke 3 no 7 ditulis besaran pajaknya yang sudah dibayar?
    Penghasilan dari Pengalihan (Penjualan) Tanah dan Bangunan adalah objek PPh Final; oleh karena itu harus dicantumkan pada SPT bagian "PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL", subbagian "PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN"
     
    Apakah di SPH yang akan dilaporkan 3 tahun itu, harta terjual tersebut dihapus/didelet dari list?
    Sebenarnya Sesuai aturan Pasal 4 ayat (2) PER-03/PJ/2017:
    Informasi Harta tambahan yang dicantumkan dalam laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah informasi per akhir tahun buku sebelum tahun laporan disampaikan.
    Tetapi, apakah Harta Tambahan yang sudah dijual wajib dihapuskan di laporan penempatan harta, tidak ada diatur secara detail.
    Maka dari itu, Saran kami, Harta Tambahan yang sudah dijual itu tetap dicantumkan dengan nilai "0" (nihil) dan dilengkapi dengan keterangan yang memadai.
     
    Dan apakah di SPT lembar ke 4 juga harta terjual tersebut didelete dari daftar?
    Ya. Harta itu wajib dihapuskan di SPT karena sudah tidak dikuasai pada akhir tahun dan sudah berubah wujudnya menjadi Penghasilan (Final).
     
    ..."kalo ada tanah yang dijual, artinya ada saving yang bertambah atau deposito bertambah, kata beliau kudu balance.
    Masalahnya, keluarga saya ini perorangan, bukan badan, jadi harus balance gimana maksudnya min ?"

    Seperti yang dijelaskan di jawaban pertama, kalo terdapat harta yang dijual, maka timbul harta lain dari hasil penjualan tersebut (lazimnya berupa uang kas). Maka ketika Tanah dan Bangunan di jual secara kas, maka sewajarnya harta berupa Kas/ bank meningkat. Saldo Kas/ Bank di akhir tahun tidak harus persis sama dengan hasil penjualan tanah, karena dapat dipahami bahwa WP juga mempergunakannya untuk konsumsi atau lainnya. Tetapi, intinya adalah:
    harta awal + penghasilan = harta akhir + pengeluaran
     
    ..."sebelum ikut TA, sudah ada 2 harta yang rutin dilaporkan, nah, apakah 2 harta ini dimasukkan juga ke LAPORAN PENEMPATAN HARTA atau hanya harta2 yang ikut TA saja ?"
    Sesuai dengan namanya "Laporan Penempatan Harta Tambahan", maka yang dilaporkan hanya harta Tambahan yang diamnestikan saja (bagian B pada SPH).
    Andri wahyu26 Mar 2018 pukul 22.02
    trima kasih min, sangat cerah sekali jawabannya....
    bisa ajukan 1 lagi min berkenaan dengan jawaban diatas ?
    yaitu pada kalimat >>> Tetapi, intinya adalah: harta awal + penghasilan = harta akhir + pengeluaran

    apakah ini maksudnya kudu ada bukti lembar neraca terpisah atau bagaimana min ? 
    Soalnya berhubung menggunakan pph final peredaran brutto, bapak saya hanya menggunakan laporan laba rugi dari usaha tersebut itu saja  
    ataukah kalimat jawaban diatas itu hanya sebagai acuan / patokan kriteria supaya saya lebih mudah memahami jawaban admin ? 

    terima kasih banyak min
    Moderator27 Mar 2018 pukul 21.49
    Sesuai Pasal 28 ayat (1) UU KUP, Orang atau Badan yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas di Indonesia tidak diwajibkan mengadakan pembukuan
    .
    Dengan demikian tidak ada kewajiban pembukuan bagi orang pribadi, kecuali yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000 per tahun.
     
    formula harta awal + penghasilan = harta akhir + pengeluaran hanyalah sebagai guidance untuk menguji kesesuaian antara harta, penghasilan dan pengeluaran. Bagi Wajib Pajak yang tidak melakukan pembukuan, sulit membuktikan angka-angka tersebut dengan akurat. Maka, sepanjang angka-angka tersebut masih dalam range masuk akal (rasional), Petugas Pajak pasti bisa memahami bahwa angka harta, penghasilan dan pengeluaran telah disampaikan dengan sewajarnya, demikian sebalikya.

    Topik Lainnya

    mengambil data...

    Subscribe

    Dapatkan informasi terbaru dari pajakku
    2020 © PT. Mitra Pajakku
    Ikuti kami